Meneladani Kearifan Lokal Riwayat Tsunami

Table of Contents

You are currently viewing Meneladani Kearifan Lokal Riwayat Tsunami

Nama Dr.-Ing Widjo Kongko mulai dikenal luas kala menyampaikan hasil kajian potensi tsunami di selatan Pulau Jawa bagian barat. Kajian tersebut mengungkapkan adanya potensi gempa megathrust berkekuatan 8,8 SR yang berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 20 meter.

Alih-alih disikapi dengan kesiapsiagaan, kajian tersebut malah dinilai meresahkan hingga berujung ke laporan kepolisian. Saat berkunjung ke kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cilacap, Kamis (22/9), Wijdo berbagi kisah mengenai pengalamannya mengkaji berbagai permodelan tsunami.

Sebelumnya, Perekayasa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini telah membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah Selatan Jawa. Dari permodelan tersebut, ditemukan adanya potensi gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter.

Berdasarkan permodelan ini, Peneliti tsunami purba dari LIPI, Eko Yulianto bahkan menemukan apa yang diyakini sebagai lapisan tsunami sekitar 400 tahun yang lalu di Selatan Jawa. “Ada teman yang ahli Paleotsunami. Pak Eko melakukan survey dan mengambil sampel material organiknya, dan di dating menggunakan sistem karbon. Diketahui umurnya ada yang 1.000 tahun, 500 tahun, dan sebagainya” kata pria kelahiran Banyumas 1967 itu.

Peristiwa tsunami pada masa lampau, menurut Widjo diketahui tercatat dalam beberapa manuskrip kuno. Salah satunya seperti yang terekam dalam tembang/sekar mocopat Serat Srinata. Manuskrip-manuskrip tersebut patut diteliti lebih mendalam secara saintis.

“Hal ini penting agar kearifan lokal ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk merumuskan mitigasi bencana yang baik bagi suatu daerah”, tambah Widjo.

studi1
Serat Sri Nata dari Babad Tanah Jawi yang mengisahkan tsunami pada masa lampau. (Foto : Twitter Widjo Kongko)

Pria yang pernah menjadi peneliti senior pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini menjelaskan, zona megathrust bukanlah hal baru karena sudah ada saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia jutaan tahun lalu. Tak hanya di selatan Jawa, zona megathrust sendiri berada di berbagai zona subduksi aktif.

Yaitu subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba. Subduksi Banda,  Subduksi Lempeng Laut Maluku, Subduksi Sulawesi, Subduksi Lempeng Laut Filipina  dan Subduksi Utara Papua.

Widjo menambahkan, pemerintah perlu memperbaiki sistem peringatan dini tsunami, terutama untuk tsunami non tektonik. Selanjutnya perlu disosialisasikan mitigasi bencana terpadu, untuk mengurangi dampak dan risiko yang timbul. Di sisi lain, media juga harus membuat pemberitaan yang proporsional untuk mengedukasi masyarakat.

“Bagaimanapun kita harus selalu siap. Potensi tetap ada. Tidak perlu panik, tapi kita perlu tumbuhkan kembali kearifan lokal untuk membuat program literasi dan mitigasi untuk evakuasi mandiri”, tandasnya.(dn/kominfo)

Tautan Sumber Berita

Facebook
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kantor Desa:

Jl. Raya Bantarsari, Bantarsari, Kec. Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah 53281

© 2022 made by: sketsaemas.com